Manusia Modern lebih mengagungkan peradaban barat dan lebih menitikberatkan perhatiannya pada dunia luar, melakukan kegiatan untuk mendominasi dan menaklukan alam, maka dengan perbuatan itu dihasilkanlah prestasi teknologi yang gemilang tetapi untuk itu mereka juga harus membayar dengan mahal. Di sisi lain dalam peradaban sedemikian canggih itu, maka pengalaman jiwa yang bermukim dalam diri sendiri itu hampir seluruhnya diabaikan.
Fenomena bangkitnya spiritualisme atau mistisme sering pula di sebut sebagai kebangkitan new age (zaman baru) yang ditandai dengan pendekatan spiritual dalam memandang segala peristiwa. Spiritualisme kini sudah menjadi landasan hidup manusia khususnya di Timur, sejak ribuan tahun silam. Tapi spiritualisme kemudian menghilang karena perkembangan keilmuan barat yang rasionalis, hedonis, yang pragmatis yang bahkan spiritualisme tidak hanya berbicara rasio (mind) dan roh (spirit). Selanjutnya dikatakan bahwa bibit spiritualisme dibawa ke barat khususnya Amerika sekitar tahun 50-an, iklim di Amerika ikut mempengaruhi cara pendalaman agama dan spiritualisme disana, dan bahasa yang digunakan tidak lagi simbolis.
Di Universitas-universitas studi tentang hal ini berkembang sangat cepat dan mereka mulai mendalami dan mempelajari Zen, Budhisme, Tao dan Islam secara mendalam.
Gelombang spiritualisme yang sifatnya lintas agama ini kemudian menyebar keseluruh dunia yang kemudian menjadi trend di tahun 90-an, dimana ketika manusia semakin gelisah dan mulai mencari makna kehidupan yang lebih baik guna mencapai tingkat “Kesadaran Tinggi”.
Ilmu Psikologi telah berupaya menyingkap misteri jiwa manusia dan telah membantu manusia memahami dunia terdalam “kesadaran” dan “ketaksadaran”. Namun untuk benar-benar mengetahui dan mengenal diri kita sendiri adalah bahwa kita harus kembali pada “benih” atau ”inti” dari manusia. Bagi manusia pikiran-pikiran adalah benih-benih yang muncul dari jiwa itu sendiri yang memiliki bentuk dan identitas pribadi.
Jiwa bukanlah subyek yang bisa berubah layak-nya tubuh, jiwa merupakan pondasi kesadaran yang di-dalam-nya terdapat kepribadian, pikiran-pikiran, hasrat dan emosi.
Jiwa adalah pengendali kesadaran yang akan mengatur segala sesuatu, semua pikiran, semua kata-kata dan semua tindakan yang dilakukan oleh badan. Jiwa adalah supir (pengemudi) dan badan adalah mobilnya. Dan untuk mengontrol lebih maksimum laju berjalannya mobil itu, maka pengemudi harus duduk ditempat yang tetap agar dapat mengakses, mengontrol dan mengambil keputusan (kebijakan) secara tepat dan cepat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar